TopBottom

“Satuan Karya Pramuka (SAKA) Wanabakti” adalah Wadah pendidikan Kepramukaan guna menyalurkan minat, mengembangkan bakat, dan meningkatkan pengetahuan, kemampuan, ketrampilan dan pengamalan para pramuka dalam bidang Kehutanan.

Hutan rakyat

Posted by SAKA WANABAKTI at Sabtu, 24 Oktober 2009
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit


Hutan rakyat adalah hutan-hutan yang dibangun dan dikelola oleh rakyat, kebanyakan berada di atas tanah milik atau tanah adat; meskipun ada pula yang berada di atas tanah negara atau kawasan hutan negara.

Secara teknik, hutan-hutan rakyat ini pada umumnya berbentuk wanatani; yakni campuran antara pohon-pohonan dengan jenis-jenis tanaman bukan pohon. Baik berupa wanatani sederhana, ataupun wanatani kompleks (agroforest) yang sangat mirip strukturnya dengan hutan alam.

Macam Hutan Rakyat

Ada beberapa macam hutan rakyat menurut status tanahnya. Di antaranya:

1. Hutan milik, yakni hutan rakyat yang dibangun di atas tanah-tanah milik. Ini adalah model hutan rakyat yang paling umum, terutama di Pulau Jawa. Luasnya bervariasi, mulai dari seperempat hektare atau kurang, sampai sedemikian luas sehingga bisa menutupi seluruh desa dan bahkan melebihinya.
2. Hutan adat, atau dalam bentuk lain: hutan desa, adalah hutan-hutan rakyat yang dibangun di atas tanah komunal; biasanya juga dikelola untuk tujuan-tujuan bersama atau untuk kepentingan komunitas setempat.
3. Hutan kemasyarakatan (HKm), adalah hutan rakyat yang dibangun di atas lahan-lahan milik negara, khususnya di atas kawasan hutan negara. Dalam hal ini, hak pengelolaan atas bidang kawasan hutan itu diberikan kepada sekelompok warga masyarakat; biasanya berbentuk kelompok tani hutan atau koperasi. Model HKm jarang disebut sebagai hutan rakyat, dan umumnya dianggap terpisah.

Namun kini ada pula bentuk-bentuk peralihan atau gabungan. Yakni model-model pengelolaan hutan secara bermitra, misalnya antara perusahaan-perusahaan kehutanan (Perhutani, HPH, HPHTI) dengan warga masyarakat sekitar; atau juga antara pengusaha-pengusaha perkebunan dengan petani di sekitarnya. Model semacam ini, contohnya PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat), biasanya juga tidak digolongkan sebagai hutan rakyat; terutama karena dominasi kepentingan pengusaha.

Hutan rakyat zaman sekarang telah banyak yang dikelola dengan orientasi komersial, untuk memenuhi kebutuhan pasar komoditas hasil hutan. Tidak seperti pada masa lampau, utamanya sebelum tahun 1980an, di mana kebanyakan hutan rakyat berorientasi subsisten, untuk memenuhi kebutuhan rumahtangga petani sendiri.

Pengelolaan hutan rakyat secara komersial telah dimulai semenjak beberapa ratus tahun yang silam, terutama dari wilayah-wilayah di luar Jawa. Hutan-hutan --atau tepatnya, kebun-kebun rakyat dalam rupa hutan-- ini menghasilkan aneka komoditas perdagangan dengan nilai yang beraneka ragam. Terutama hasil-hasil hutan non-kayu (HHNK). Bermacam-macam jenis getah dan resin, buah-buahan, kulit kayu dan lain-lain. Bahkan kemungkinan aneka rempah-rempah yang menarik kedatangan bangsa-bangsa Eropah ke Nusantara, sebagian besarnya dihasilkan oleh hutan-hutan rakyat ini.

Belakangan ini hutan-hutan rakyat juga dikenal sebagai penghasil kayu yang handal. Sebetulnya, semua jenis hutan rakyat juga menghasilkan kayu. Akan tetapi pada masa lalu perdagangan kayu ini ‘terlarang’ bagi rakyat jelata. Kayu mulai menjadi komoditas diperkirakan semenjak zaman VOC, yakni pada saat kayu-kayu jati dari Jawa diperlukan untuk membangun kapal-kapal samudera dan benteng-benteng bagi kepentingan perang dan perdagangan. Pada saat itu kayu jati dikuasai dan dimonopoli oleh VOC dan raja-raja Jawa. Rakyat jelata terlarang untuk memperdagangkannya, meski tenaganya diperas untuk menebang dan mengangkut kayu-kayu ini untuk keperluan raja dan VOC.

Monopoli kayu oleh penguasa ini dilanjutkan hingga pada masa kemerdekaan. Di Jawa, hingga saat ini petani masih diharuskan memiliki semacam surat pas, surat izin menebang kayu dan surat izin mengangkut kayu; terutama jika kayu yang ditebang atau diangkut adalah jenis yang juga ditanam oleh Perum Perhutani. Misalnya jati, mahoni, sonokeling, pinus dan beberapa jenis lainnya. Di luar Jawa, setali tiga uang. Hak untuk memperdagangkan kayu sampai beberapa tahun yang lalu masih terbatas dipunyai oleh HPH-HPH, sebagai perpanjangan tangan negara.

Sumber : wikipedia

Label:

Pondok Ramadan 2009

Posted by SAKA WANABAKTI at Rabu, 16 September 2009
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit

setiap bulan ramadan, saka wanabakti ponorogo selalu mengadakan kegiatan religius, yaitu berupa kegiatan pondok ramadan. kali ini pondok ramadan diadakan berada di sanggar wanabakti Ponorogo. dalam kegiatan tersebut, para adik-adik calon anggota Wanabakti ponorogo di berikan materi berupa materi tentang pengetahuan agama, tata cara berpidato, beribadah bersama, tadarus, serta selingan kegiatan out bound.

Pondok ramadan 2009 ini dilaksanakan selama 3 hari, di mulai dengan buka puasa bersama, sampai dengan hari kamis 17 september 2009. Kegiatan ini pula sebagai ajang bagi kakak-kakak senior yang baru, yaitu angkatan 25 untuk belajar menjadi sebuah panitia yang solid dan profesional.

Dengan mendirikan 3 tenda untuk putra dan 2 tenda untuk putri yang dijadikan sebagai tempat tinggal selama kegiatan berlangsung, serta suasana yang dibuat oleh panitia dengan format alam, yaitu menggunakan penerangan alami berupa obor (sebagai alat penerangan pada malam hari), membuat suasana kegiatan ini semakin khusuk tapi tetap semangat.











Lomba Tektur 2

Posted by SAKA WANABAKTI at Senin, 14 September 2009
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit



Budaya membangunkan sahur ketika pada bulan puasa, atau yang lebih sering didengar dengan istilah netek (jawa), alias tektur adalah sudah tradisi yang dilakukan oleh setiap warga, terutama remaja masjid. Dengan peralatan yang seadanya, seperti kentongan, jurigen, botol minuman dan sebagainya, yang penting dapat mengeluarkan bunyi-bunyian bila dipukul.

Nah pada momen inilah Saka wanabakti Ponorogo mencoba ikut melestarikan budaya tektur yang mulai ditinggalkan oleh masyarakat serta meramaikan bulan ramadan ini, dengan melaksanakan lomba tektur yang kedua, dengan peserta dari seluruh SMA dan SMP se-kabupaten Ponorogo.

Bertempat di gedung Amarta Graha Kwarcab ponorogo, suasana sangat ramai saat lomba berlangsung. Meski dalam keadaan puasa, tapi para peserta dan panitia sangat antusia dalam ikut memeriahkan lomba tektur tersebut.

Harapan dari lomba tersebut adalah semoga budaya membangunkan gugah sahur tidak hanya sekedar memukul serta membunyikan alat-alat apa adanya, tapi bisa dirangkai dengan nada-nada yang indah, sehingga enak di dengar dan dinikmati.



Label: